Buku ini mengupas perjalanan panjang kisah Helen Keller, seorang perempuan tunanetra-tunarungu asal Amerika yang menjadi ikon perjuangan dalam tiga tradisi budaya yang berbeda: Amerika, India, dan Indonesia. Berawal dari autobiografi klasiknya, The Story of My Life, kisah hidupnya kemudian diadaptasi menjadi film Bollywood berjudul Black (2005) garapan Sanjay Leela Bhansali, dan selanjutnya menjelma menjadi novel Indonesia berjudul Moga Bunda Disayang Allah (MBDA) karya Tere Liye. Dengan menggunakan teori Estetika Respons Wolfgang Iser serta pendekatan adaptasi dan transkultural, buku ini mengungkap bagaimana setiap karya tidak sekadar meniru teks sumber, melainkan menciptakan makna baru melalui proses negasi, pengisian blank, dan pempribumian (indigenization) nilai-nilai budaya setempat.
Lebih dari sekadar kajian adaptasi, buku ini menawarkan perspektif segar tentang otonomi estetis karya adaptasi. Film Black menghadirkan hibriditas budaya Anglo-India dan nilai-nilai religius Hindu, sementara novel MBDA membumikan kisah Helen Keller ke dalam latar budaya Minangkabau dengan nilai-nilai Islam yang kental. Keduanya menunjukkan bahwa adaptasi adalah repetisi tanpa replikasi, pengulangan kreatif yang melahirkan makna baru, bukan sekadar salinan dari karya sebelumnya. Buku ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa sastra, peneliti budaya, serta siapa saja yang tertarik pada kajian adaptasi lintas media dan lintas budaya.





Ulasan
Belum ada ulasan.