Peran Wanita dalam Sistem Kepercayaan Jepang: Antara Konfusianisme, Buddha, dan Shinto

Sistem kepercayaan di Jepang telah lama membentuk lanskap sosial dan budaya, termasuk dalam mendefinisikan peran serta status wanita. Pengaruh Jukyoo (Konfusianisme)Bukkyoo (agama Buddha), dan Shinto (Sintoisme) telah menciptakan gambaran kompleks tentang posisi wanita dalam masyarakat Jepang sepanjang sejarah. Artikel ini akan mengupas bagaimana ketiga sistem kepercayaan tersebut memandang wanita, serta bagaimana pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.

Untuk memahami lebih dalam bagaimana bahasa Jepang merefleksikan konsep maskulinitas dan femininitas, Anda dapat membaca artikel menarik lainnya: Menguak Rahasia Maskulinitas dan Femininitas dalam Bahasa Jepang: Lebih dari Sekadar Kata.

Pengaruh Konfusianisme dan Onna Daigaku

Sejak zaman Heian, status sosial wanita perlahan menurun seiring menguatnya sistem patrilineal dalam masyarakat samurai. Tekanan ini mencapai puncaknya pada zaman Tokugawa, di mana ajaran Konfusianisme memberikan dampak sangat besar. Ajaran ini tidak hanya menekankan perbedaan antara golongan atas dan bawah, tetapi juga mempertegas perbedaan status sosial antara pria dan wanita.

Salah satu bukti paling nyata dari pengaruh ini adalah kumpulan buku bertema Onna Daigaku (Ajaran Besar untuk Wanita). Buku klasik yang ditulis dengan huruf kana ini menjadi bacaan luas bagi wanita pada zaman Edo sebagai panduan etika dan moral. Bahkan hingga zaman Meiji, buku-buku ini dijadikan bahan pelajaran etika di sekolah-sekolah wanita.

Isi Ajaran Onna Daigaku

Buku yang paling tua, Onna Daigaku Takarabako (1716) yang disusun oleh Kaibara Ekiken, mengajarkan bahwa wanita adalah sosok yang lemah, berstatus rendah, dan dianggap bodoh dibandingkan pria. Jalan kehidupan wanita sepenuhnya bergantung pada orang lain.

Dalam Shinsen Zoohoo Onna Daigaku (1880) disebutkan secara eksplisit:

  • Wanita harus menganggap suami sebagai “majikan” dan bersikap rendah hati.
  • Kewajiban utama wanita adalah patuh, sabar, dan tidak menentang suami.
  • Suami diibaratkan sebagai “langit yang tinggi dan orang yang sangat mulia.”
  • Menentang suami dianggap sebagai dosa yang mendatangkan siksaan.
  • Istri harus menerima perselingkuhan suami dengan sabar, dan menasihati dengan lembut.
  • Wanita dilarang berdekatan atau bercakap-cakap dengan pria lain selain suami.

Ajaran ini juga mencantumkan tujuh alasan yang memperbolehkan suami menceraikan istri secara sepihak (shichikyō), yaitu: penyakit tak tersembuhkan, pencemburu, cerewet, tidak hormat, mandul, mencuri, dan menyeleweng.

Meskipun banyak dikritik, misalnya oleh Fukuzawa Yukichi melalui bukunya Onna Daigaku Hyooron (1899), buku-buku Onna Daigaku tetap digunakan hingga akhir Perang Dunia Kedua.

Ajaran Buddha: Wanita sebagai Penggoda

Agama Buddha juga memberikan dampak negatif terhadap status sosial wanita, terutama pada zaman Tokugawa melalui sistem danka yang menguasai masyarakat. Ajaran Buddha kuno memandang wanita sebagai penggoda yang menghalangi pencapaian nirwana. Beberapa ajaran menyatakan:

  1. “Semua wanita tidak dapat mencapai nirwana.”
  2. “Wanita pada dasarnya sering melakukan hal tidak baik dan menggoda orang ke arah kejahatan.”
  3. “Sekali saja melihat wanita, maka pertapaan pun gagal. Lebih baik melihat ular daripada melihat wanita.”

Wanita dianggap sebagai roh jahat yang terbelenggu dalam dunia sementara (gense). Karena pandangan ini, para pendeta Buddha dilarang menikah.

Namun, pada abad ke-13, pendeta Shinran mendirikan aliran Joodo Shinshuu yang mengajarkan bahwa semua orang, termasuk wanita, dapat mencapai nirwana. Shinran sendiri menjadi pendeta Buddha pertama yang menikah. Meskipun demikian, diskriminasi politik dan sosial terhadap wanita tetap kuat dalam aliran ini.

Shinto dan Larangan Nyonin Kinsei

Agama Shinto juga menempatkan wanita pada posisi rendah melalui konsep nyonin kinsei, yaitu kepercayaan yang melarang wanita memasuki tempat-tempat tertentu karena dianggap “kotor.” Larangan ini berakar pada pandangan bahwa eksistensi wanita membawa kekotoran (kegare).

Beberapa contoh nyonin kinsei:

  • Wanita dilarang memasuki gunung-gunung suci seperti Fuji, Hiezan, Kooyasan, Oomine, dan Ontakesan.
  • Wanita dilarang memasuki pekarangan Kuil Shinto beberapa waktu setelah melahirkan.
  • Dalam olahraga sumo, wanita hingga kini dilarang memasuki gelanggang (dohyoo) karena dianggap keramat.
  • Pada tahun 1978, seorang gadis bernama Kurihara Mie dilarang tampil di final sumo anak-anak tingkat nasional hanya karena ia perempuan.
  • Di beberapa daerah, wanita masih dilarang memasuki tempat pembuatan atau penyimpanan sake (sakagura).

Meskipun saat ini jumlah tempat yang terbuka untuk wanita jauh lebih banyak, prinsip nyonin kinsei masih tersisa dalam berbagai aspek budaya Jepang.

Kesimpulan

Sistem kepercayaan di Jepang, Konfusianisme, Buddha, dan Shinto, telah secara sinergis membentuk pandangan bahwa wanita adalah makhluk yang lemah, tidak berdaya, dan perlu tunduk pada pria. Ajaran Onna Daigaku, doktrin Buddha tentang wanita sebagai penggoda, serta larangan nyonin kinsei dalam Shinto, semuanya berkontribusi pada rendahnya status sosial wanita Jepang sepanjang sejarah.

Meskipun pengaruh Barat dan kritik dari tokoh seperti Fukuzawa Yukichi telah membawa perubahan, jejak-jejak diskriminasi ini masih dapat ditemukan hingga kini. Memahami sejarah ini penting untuk mengapresiasi perjuangan wanita Jepang dalam meraih kesetaraan, sekaligus memahami akar budaya dari konsep maskulinitas dan femininitas dalam masyarakat Jepang modern.

Pelajari lebih lanjut dan dapatkan bukunya sekarang juga.

rahasia femininitas melalui joseigo

Link buku cetak: https://divyamediapustaka.com/produk/rahasia-femininitas-melalui-joseigo/

Link eBook: https://play.google.com/store/books/details?id=VzucEQAAQBAJ

Tinggalkan Balasan